Kontak Kami

( pcs) Checkout

Info: Untuk melakukan pembelian obat ditempat terdekat di kota anda, silahkan buka menu NAMA apotik untuk melihat nama apotik di seluruh indonesa
Beranda » Artikel dan Tips » Tantangan Apoteker Sebagai Petugas terdepan Pelayanan Obat

Tantangan Apoteker Sebagai Petugas terdepan Pelayanan Obat

Diposting pada 17 Desember 2016 oleh Samir Jalali

Standar pelayanan kefarmasian masih belum diterapkan secara optimal di fasilitas pelayanan kefarmasian, disamping masih kurangnya kualitas dan kuantitas tenaga farmasi di fasilitas pelayanan kesehatan. Dari sisi demand, pemahaman dan kesadaran masyarakat juga masih rendah dalam menggunakan obat rasional. Baca : Rasio Perbandingan Jumlah Apoteker 2016

Kendala dan tantangan dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian masih begitu banyak. Satu diantaranya yang masih hangat dalam perbincangan publik terjadi beberapa bulan laluĀ adalah kasus vaksin palsu.

Menurut Ditjen Binfar (2016) dalam majalah Infarkes Ed.IV menyebutkan bahwa dampak berbahaya yang ditimbulkan apabila mutu obat dan vaksin yang digunakan dalam pelayanan kefarmasian ternyata sub standar atau bahkan palsu diantaranya adalah tujuan pengobatan tidak tercapai, bisa menimbulkan penyakit lain pada pasien seperti alergi, dapat mengakibatkan kematian, menyebabkan kerugian materi pada pasien.

Contoh pada kasus penggunaan antibiotika palsu dapat menyebabkan resistensi. Pemberian vaksin palsu pada bayi/anak akan menyebabkan bayi/anak tidak mempunyai kekebalan terhadap penyakit tertentu. Apabila vaksin palsu dibuat pada lingkungan yang tidak steril, maka bayi/anak
yang mendapat vaksin ini dapat mengalami infeksi.

Ciri-ciri obat palsu/sub standar

Ada lima batasan bahwa obat dinyatakan sebagai obat sub standar atau obat palsu, yaitu produk mengandung bahan berkhasiat dengan kadar yang memenuhi syarat, diproduksi, dikemas dan diberi label seperti produk aslinya, tetapi bukan dibuat oleh pabrik aslinya;

Tantangan apoteker yang kedua yaitu Obat yang mengandung bahan berkhasiat dengan kadar yang tidak memenuhi syarat; Selanjutnya adalah produk dibuat dengan bentuk dan kemasan seperti produk asli, tetapi tidak mengandung bahan berkhasiat; Keempat, Produk yang menyerupai produk asli, tapi mengandung bahan berkhasiat yang berbeda; dan yang terakhir adalah Produk yang diproduksi tidak mempunyai nomor ijin edar dari BPOM. Baca juga : Cara menghindari Kesalahan Penggunaan Obat

Pengawasan Mutu Obat

Aspek pengawasan mutu obat dalam standar pelayanan kefarmasian sangat penting. Dalam Permenkes tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di apotek disebutkan bahwa aspek pengawasan mutu obat dalam pelayanan kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan (apotek, rumah sakit, dan puskesmas) bertujuan agar pasien/masyarakat mendapatkan obat yang aman, bermutu dan berkhasiat dan melindungi masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety).

Untuk mendukung aspek pengawasan mutu obat dalam standar pelayanan kefarmasian, juga telah diterbitkan Permenkes No. 2 tahun 2016 mengenai Penyelenggaraan Uji Mutu Obat pada Instalasi Farmasi Pemerintah. Dalam Permenkes No. 2 tahun 2016 tersebut, disebutkan bahwa Penyelenggaraan Uji Mutu Obat pada Instalasi Farmasi Pemerintah bertujuan untuk mendukung pemastian mutu obat yang diadakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah paerah yang dilaksanakan melalui kegiatan pengambilan sampel, uji laboratorium, dan pelaporan hasil uji.

Pengambilan sampel dilaksanakan setelah berkoordinasi dengan Dirjen Farmalkes untuk Instalasi Farmasi milik Kementerian Kesehatan RI dan dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota untuk instalasi farmasi milik pemerintah provinsi/kabupaten/kota.

Peningkatan Pelayanan Kefarmasian

Selain berperan dalam penyusunan standar pelayanan kefarmasian, Direktorat Pelayanan Kefarmasian juga telah melakukan upaya untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional yaitu dengan melakukan tiga kegiatan, yakni:

a. Kegiatan bimbingan teknis tentang pelayanan kefarmasian ke puskesmas, apotek dan rumah sakit. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui implementasi standar pelayanan kefarmasian serta pemecahan masalah yang dihadapi terkait pelayanan kefarmasian.

b. Peningkatan kesadaran, pemahaman dan keterampilan masyarakat tentang penggunaan obat rasional, dengan melibatkan lintas sektor berbagai strategi yang komprehensif melalui Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat)

c. Peningkatan pelayanan kefarmasian dalam implementasi JKN, melalui penerapan Formularium Nasional (Fornas) dan pemantauan evaluasi kendali mutu dan kendali biaya obat. (Infarkes IV, 2016)

Bagikan informasi tentang Tantangan Apoteker Sebagai Petugas terdepan Pelayanan Obat kepada teman atau kerabat Anda.

Tantangan Apoteker Sebagai Petugas terdepan Pelayanan Obat | Apotek Obatlife

Belum ada komentar untuk Tantangan Apoteker Sebagai Petugas terdepan Pelayanan Obat

Silahkan tulis komentar Anda

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
*Harga Hubungi CS
Ready Stock
*Harga Hubungi CS
Ready Stock
*Harga Hubungi CS
Ready Stock

Tentang Kami

Obatlife.com sebagai apotik jaringan online yang bekerjasama dengan banyak apotik di indonesia. Distribusi dan tempat pembelian obat ditentukan berdasarkan lokasi terdekat konsumen. Pelayanan terbuka 24 jam sistem Satu Harga seluruh indonesia.

Pencarian

Pengunjung

SIDEBAR